Sejarah Singkat Awal Berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate

Berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate,taklepas dari rasa nasionalisme dan patriotisme anak bangsa di era penjajahan Belanda. Adalah Ki Harjo Oetomo, dari desa Pilang Bangau, Madiun, yang selalu mencoba mengibarkan rasa nasionalisme itu melalui pencak silat. Meski untuk itu ia harus rela beberapa kali merasakan dinginnya  tembok penjara sang penjajah.
Awalnya, beberapa murid Ki Ageng Soerodiwiryo di Winongo,melepaskan diri di antaranya kemudian mendirikan Setia Hati Korban Dunia, Setia Hati Organisasi (SHO) di Semarang, SH Cempaka Putih di Jakarta dan Setia Hati Pencak Sport Club (SHPSC) yang didirikan oleh Ki Hardjo Oetomo.
SH Pencak Sport Club didirikan di desa Pilangbangau – Madiun,Jawa Timur tahun 1922. Namun tidak berjalan lama, Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia pun mencium kegiatan itu,dan langsung membubarkannya.
Namun demikian semangat Ki Hadjar Hardjo Oetomo bukannya nglokro(melemah),tapi malah semakin berkobar-kobar.untuk mengelabuhi Belanda, SH Pencak Sport Club yang telah dibubarkan Belanda,diam-diam dirintis kembali dengan siasat menghilangkan kata “Pencak”menjadi”Pemuda Sport Club”.
Muslihat dengan menghilangkan istilah “pencak” tadi ternyata berhasil,terbukti Belanda membiarkan kegiatannya itu berjalan sampai beliau melahirkan murid pertamanya,yakni ,Idris dari Dandang Jati,Loceret,Nganjuk. Selain itu Mujini, Jayapana dan masih banyak lagi yang tersebar sampai Kertosono,Jombang,Ngantang,Lamongan,Solo dan Yogyakarta.
Memasuki tahun 1942 bertepatan dengan datangnya Jepang ke Indonesia, SH Pemuda Sport Club berubah nama menjadi”SH Terate”. Penggantian nama ini saat diselenggarakan musyawarah antaranggota,nama itu sendiri merupakan usulan dari salah seorang murid bernama Soeratno Soerengpati. Sayang tidak ada catatan,mengapa nama tersebut diganti dan apa pertimbangannya.
Selang anam tahun kemudian, yaitu tahun 1948. Sh Terate mulai berkembang merambah ke segenap penjuru. Ajaran SH Terate pun mulai dikenal oleh masyarakat luas. Atas prakarsa Soetomo Mangkudjojo, Darsono, dan Soemadji, dIadakan konferensi di Pilangbangau (di rumah Alm Ki Hardjo Oetomo).dari konferensi yang berlangsung pada bulan juli 1948 itu lahir ide-ide yang cukup bagus. Di antaranya yang paling mendasar adalah platform SH Terate yang semenjak berdirinya berstatus”Perguruan Pencak Silat” di ubah menjadi organisasi”Persaudaraan Setia Hati Terate”.
Selain itu, untuk melengkapi susunan organisasi, Soetomo Mangkudjojo diangkat menjadi ketua,Darsono menjadi wakil ketua dan Soemadji sebagai sekretaris
Namun hanya 2 tahun Soetomo Mankudjojo secara efektif memimpin SH Terate. Tahun 1950,ia pindah ke Surabaya,sedang Darsono pindah ke Kediri,maka jabatan ketua dipegang oleh Irsad dengan sekretaris Bambang Soedarsono. Pada tahun ini pula Ki Hardjo Oetomo sebagai seorang tokoh pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate,mendapat pengakuan dari pemerintah Pusat dan di tetapkan sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan” atas jasa-jasa beliau dalam perjuangan menentang penjajah Belanda.
Pada saat kepemimpinan Irsad ini lah,dilakukan penyempurnaan jurus. Sehingga ada perbedaan pada beberapa jurus lama dan baru. Namun demikian,meski ada perubahan,pada hakekatnya punya pengertian yang sama. Tak mengubah hitungan maupun falsafahnya.
Berikutnya ,Pusat pimpinan dipegang oleh Santoso,Badini dan RM Imam Koesoepangat (Mas Imam).
Siapakah Ki Hardjo Oetomo  ?
Ki Hardjo Oetomo, pendiri SH Terate, lahir di Madiun tahun 1890. Setelah lulus sd (sekolah kelas 11/His),beliau magang sebagai Leerling Reamte di SS(PJKA/PT Kereta Api Indonesia saat ini) di Bondowoso,Panarukan,dan Tapen. Sikapnya yang pemberani dan tidak cocok dengan atasannya yang kebanyakan Belanda,membuat beliau kemudian meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Madiun.
Memasuki tahun 1900 melamar jadi mantra di Pasar Spoor Madiun. Empat bulan berikutnya ia di tempatkan di Milir dan berhasil diangkat menjadi Ajunt Opsioner Pasar Milir,Dolopo,Uteran dan Pagotan.
Menginjak tahun 1906 beliau pindah pekerjaan lagi dan bekerja di Pabrik Gula Rejo Agung,Madiun. Di sinipun hanya betah untuk sementara waktu. Tahun 1917 ia keluar lagi dan bekerja di rumah gadai, hingga beliau bertemu dengan seorang Tetua dari Tuban yang kemudian memberi pekerjaan kepadanya di stasiun Madiun sebagai pekerja harian.
Di tempat barunya ini Ki Hadjar berhasil mendirikan perkumpulan “Harta Jaya” semacam perkumpulankoperasi guna melindungi kaumnya dari tindasan lintah darat. Tidak lama kemudian ketika VSTP(Persatuan Pegawai Kereta Api) lahir, nasib membawanya kea rah keberuntungan dan beliau diangkat menjadi Hoof Komisaris Madiun.
Senada dengan kedudukan yang disandangnya,kehidupannya pun bertambah membaik. Waktu tidak sesempit seperti dulu-dulu lagi,saat beliau belum mendapatkan kehidupan yang layak. Dalam kesenggangan waktu yang dimiliki itulah,beliau berusaha menambah ilmunya dan nyantrik pada Ki Ngabehi Soerodiwiryo,di Winongo.
Sebagai seorang pendekar, Ki Hardjo Oetomo pun berkeinginan luhur untuk mendarmakan ilmu yang demilikinya kepada orang lain. Untuk kebaikan dan keselamatan sesame dan keselamatan dunia. Tetapi jalan yang di rintis ternyata tidak semulus harapannya. Jalan itu berbelok penuh dengan aral rintangan ,terlebih saat itu zaman penjajahan.
Ditangkap Belanda
Semakin lama murid-murid beliau pun kian bertambah. Kesempatan ini digunakan oleh Ki Hardjo Oetomo guna memperkokoh perlawanannya dalam menentang penjajah Belanda. Sayang pada 1926 Belanda mencium jejaknya dan ditangkap lalu dimasukkan dalam penjara Madiun.
Di dalam penjara diam-diam berusaha membujuk rekan senasib untuk mengadakan pemberontakan lagi. Sayangnya sebelum berhasil,lagi-lagi belanda mencium gelagatnya. Untuk tindakan pengamanan. Ki Hadjar pun dipindah ke penjara Cipinang dan seterusnya dipindah di penjara Padang Panjang,Sumatra. Dan baru bisa menghirup udara kebebasan tahun 1931 atau setelah lima tahun mendekam di penjara dan kembali ke kampung halamannya,Pilangbangau,Madiun.
Selang beberapa bulan setelah ki hadjar menghirup udara kebebasan dan kembali ke kampung halaman,kegiatan yang sempat macet,mulai digalakkan lagi. Dengan tertatih beliau terus memacu semangat dan mengembangkan sayapnya.
Mas Imam Peletak Dasar
Sebelum perkembangan Persaudaraan Setia Hati terate seperti sekarang ini. Persaudaraan setia hati Terate dipimpin oleh RM Imam Koesoepangat sebagai Ketua Cabang Madiun.
Karena cintanya kepada SH Terate,dan pengabdiannya yang tulus serta keberaniannya, maka Persaudaraan Setia hati Terate mulai menampakkan perkembangan yang cukup berarti. Bahkan beliau bisa di sebut sebagai peletak fondasi yang kokoh bagi perkembangan dan kemajuan Persaudaraan Setia Hati Terate.
Obsesi Mas Imam,Persaudaraan Setia Hati Terate harus menjadi sebuah perguruan yang besar. Sebab menurut mas Imam, bangsa Indonesia bukan bangsa yang tempe.
Beliau menjadi warga Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun tahun 1955 langsung di latih oleh Irsad,dengan jurus pembaharuannya. Mas Imam sendiri melatih di Paviliun Kabupaten Madiun sejak 1959.
Setelah menang dalam pertandingan ganda,berpasangan dengan Kasminto di Rumah Dinas Walikota tahun 1958,membuat namanya semakin dikenal. Dengan keharuman nama itulah membuat warga yang di latih semakin hari semakin banyak. Di antara yang dilatih saat itu adalah Widarto,Ismuadji dan Gembong.
Pada tahun 1959 Tarmadji Boedi Harsono dan RM Imam Abdullah Koesno Widjojo (Mas Gatot) diterima sebagai anak didik disitu. Padahal, Persaudaraan Setia Hati Terate hanya menerima murid yang sudah dewasa.
Di era kepemimpinannya, Persaudaraan Setia Hati Terate mulai di perhitungkan di kancah nasional, dengan munculnya atlit-atlit pencak silat dari warga Persaudaraan Setia Hati Terate. Tercatat mulai tahun 1961 bibit Sukadi dan imam suyitno menjuarai PON V di bandung sebagai Juara 1 Golongan Dewasa. Demikian pula RM Abdulllah Koesno Widjojo(Mas Gegot Alm) dan Tarmadji Boedi Harsono menjuarai pertandingan ganda putra anak-anak se Jawa Timur sebagai Juara I.
Pada tahun 1963, saat diadakan pertandingan adu bebas di madiun dalam rangka ganefo,hampit semua warga Persaudaraan Setia Hati Terate yang turun ke gelanggang menjadi juara. Di antaranya, RM Imam Koesoepangat,Parno Ramelan,Soedarso dan Soeparno. Di tahun itu pula Tarmadji Boedi Harsono dan RM Abdullah Koesno Widjojo keluar sebagai juara I Ganda se Jatim di Surabaya. Bahkan Mas Imam pun menjuarai Ganefo di tahun yang sama.
Prestasi demi prestasi pun diraih di era kepemimpinan Mas Imam. Tahun 1966 Tarmadji Boedi Harsono pun keluar sebagai juara Jawa Timur saat digelar pertandingan di aloon-aloon Madiun. Demikian pula Badani keluar sebagai juara tunggal putra se Jatim.
Semantara itu Badani dan Hardjo Madjut pernah tampil di Istana Negara pada tahun 1954. Jelas  ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga SH Terate.
Tahun 1968 lagi-lagi Persaudaraan Setia Hati Terate kembali menorehkan prestasi saat mengikuti pertandingan se Jawa Timur di Jember. Saat itu bintang-bintang Persaudaraan Setia Hati Terate yang berhasil adalah Tinuk Astute(Juara I Tunggal Putri). Tarmadji Boedi Harsono dan RB Wiyono(Juara III Ganda Putra) dan Asijah dan Sumarti(Juara III Ganda Putri).
Dilanjutkan tahun 1969,kembali Tarmadji Boedi Harsono menorehkan prestasi dengan menggondol  juara pertama se Jawa Timur. Demikian pula rekannya Tinuk Astuti. Dan di tahun yang sama Tinuk Astuti menjadi Juara PON VII tunggal putri dan pasangan Tarmadji Boedi Harsono dan RB Wijono meraih peringkat 3 ganda putra
Tahun 1970, Tarmadji Boedi Harsono menang dalam adu bebas melawan pesilat dari Ponorogo.
Sedang tahun 1972,ada beberapa warga Persaudaraan Setia Hati Terate yang menang saat diadakan pertandingan. Di antaranya Muchlis dari Ngawi,Murhandoko,Murdjoko,dan Soetarto.
Dengan demikian ,di bawah kepemimpinan Mas Imam,bintang-bintang Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun mulai bersinar di kancah regional maupun nasional.
Dan saat kepemimpinan Mas Imam pula Persaudaraan Setia Hati Terate mulai mengembangkan sayapnya lebih jauh lagi. Waktu itu sudah berdiri beberapa cabang,seperti Surabaya,Mojokerto,Malang,Solo dan Yogyakarta. Bahkan mulai tahun 70-an juga telah dibuka Cabang Jakarta. Paling tidak sampai terakhir kepemimpinan Mas Imam, Persaudaraan Setia Hati Terate memiliki 44 cabang.
Siapa Mas Imam ?
Siapa sebenarnya Mas Imam ??? ia dikenal seseorang yang berdedikasi tinggi. Dalam kamus hidupnya tidak ada kata menyerah dalam menghadapi tantangan.
Pola hidupnya sederhana meskipun ia sendiri dilahirkan dari keluarga yang bermartabat,penerus trah kusumah rembesing madu amaratapa wijiling handanawarih. Falsafahnya “Sepiro Gedhening Sengsoro Yen Tinompo Among Dadi Cobo” dan itu dihayati dijabarkan dalam lakunya sampai akhir hayatnya.
Dia adalah Raden Mas Imam Koesoepangat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mas Imam. Ia putra Raden Ayu Koesmiyatoen dengan RM Ambar Koesesi,lahir pada hari Jum’at Pahing tanggal 18 November 1938,di Madiun.kakek baliau, Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat adalah Bupati Madiun VI dan neneknya,Djuwito atau RA Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat merupakan figure yang disegani pada saat itu.
Trah Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat selain dikenal sebagai penerus darah biru juga dikenal sebagai bangsawan yang suka bertapa brata,satu laku untuk mencari hakikat hidup dengan jalan meninggalkan larangan-larangan  Tuhan Yang Maha Esa serta membentengi diri dari pengaruh keduniawian. Bakat alam yang mengalir dalam darah kakeknya ini.
Masa kecilnya dengan penuh suka dan duka,ia seperti halnya saudara-saudara kandungnya{(RM Imam Koesoenarto(Kakak) dan RM Abdullah Koesnowidjojo(Adik)} hidup dalam asuham kedua orang tuanya,menempati tempat tinggal kakeknya di lingkungan Kabupaten Madiun
.
Semasa kecilnya,beliau belum menunjukkan kelebihan yang cukup berarti. Di sekolahnya(sd latihan guru satu : sekarang SDN Indrakila,Madiun). Beliau bukan tergolong siswa yang paling menonjol,salah satu nila lebih yang dimilikinya barangkali hanya keberaniannya. Selain baliau sejak kecil sudah dikenal sebagai bocah yang jujur dan suka membele serta suka menolang teman-teman sepermainannya.
Ketika berumur 13 tahun,RM Ambar Koesensi (Ayahnya tercinta) dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,tepatnya pada tanggal 15 maret 1951,sewaktu ia masih duduk di kelas 5 SD. Hari-hari berikutnya beliau diasuh langsung oleh ibunda. Di waktu-waktu senggang ibunda sering kali mendongeng tentang pahlawa-pahlawan yang dikenalnya dan tidak lupa memberi patuah hidup. Berawal dari tatakrama pergaulan,tatakrama manembah (bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa) sampai merambah pada pengertian budi luhur dan mesubrata.
Masuk Persaudaraan Setia Hati Terate
Benih luhur yang ditanamkan ibundanya itu lambat laun ternyata mampu mengendap dan mengakar di dalam jiwa lelaki yang lebih akrab dengan panggilan”ARIO”. Perhatiannya terhadap nilai-nilai budi luhur kian mekar bak terate di tengah telaga. Semenjak kecil sudah menyukai laku tirakat,seperti puasa dll. Sejalan dengan itu sikapnya mulai berubah,ia mulai bisa membawa diri menempatkan perasaan serta menyadari keberadaannya. Gambaran seseorang Ario kecil,sebagai bocah ingusan,sedikit demi sedikit mulai ditinggalkannya.
Rasa keingintahuan terhadap berbagai pengetahuan terutama ilmu kanuragan dan kebatinan yang menjadi idaman semenjak kecil kian hari semakin membakar semangatnya,ia pun mulai belajar pencak silat di bawah panji-panji Persaudaraan Setia Hati Terate. Kebetulan yang melatih saat itu adalah Mas Irsad(Murid Ki Hardjo Oetomo). Dan  pada tahun 1959 Mas Imam berhasil menyelesaikan pelajaran di Persaudaraan Setia Hati Terate dan berhak menyandang gelar pendekar tingkat satu.
Masa Pembaharuan
H Tarmadji Boedi Harsono SE
Meski sudah berusia 87 tahun pada tahun 2009,namun Persaudaraan Setia Hati Terate yang berpusat di Madiun ini,masih tetap eksis. Bahkan semakin berkembang,apalagi setelah H Tarmadji Boedi Harsono SE, memegang kendali sebagai ketua Umum Pusat.
Perombakan dasar manajemen dan reformasi di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate pun dilaklukan. Meski banyak tantangan,namun dengan satu ketetapan hati untuk memajukan persaudaraan ini,apa yang dilakukan itu telah membuahkan hasil. Apalagi semua itu juga merupakan wasiat dari almarhum RM Imam Koesoepangat.
Pembaharuan yang dilakukan memang berawal ketika ia dipanggil oleh Mas Imam. Waktu itu 1977,ia di minta membantu Badani yang waktu itu sebagai Ketua Umum untuk membenahi kinerja Persaudaraan Setia Hati Terate. Sebenarnya waktu itu beliau merasa kurang pas,lantaran masih ada kadang lain yang dinilai lebih senior dan mampu untuk menerima tugas itu.
Ditambah lagi sebenarnya saat itu mas Madji sedang tidak aktif di SH Terate. Sebab sejak tahun 1973,ia sedang menekuni bidang pekerjaannya di PT.Gapermigas,sehingga aktifitasnya sebagai pelati di Persaudaraan Setia Hati Terate untuk sementara ditinggalkannya. Padahal tahun 1969,beliau sudah mengesahkan beberapa warga di antaranya adalah,Sentot, Sudradjat, Eddy, Purnomo dan lainnya.
“Tetapi siap untuk menerima amanah itu,namun dengan catatan kalau saya bekerja diperbolehkan melakukan perombakan,”katanya.
Sudahlah, saya percaya dengan dik Madji. Yang penting bagaimana Persaudaraan Setia Hati Terate bisa menjadi besar tanpa bantuan orang lain,”kata Mas Imam kala itu seperti yang ditirukan Mas Madji.
Mendapat kepercayaan seperti itu,beliau pun cancut taliwondho untuk membenahi Persaudaraan Setia Hati Terate. Apalagi saat itu mendapat kepercayaan untuk duduk sebagai ketua I ,sebagai orang nomor  dua di Persaudaraan Setia Hati Terate setelah Mas Badini sebagai Ketua Umumnya. Yang ia lihat kali pertama saat itu,Persaudaraan Setia Hati Terate adalah masalah manajemen keuangan. “Persaudaraan Setia Hati Terate itu punya potensi,sayangnya waktu itu tidak digunakan,” katanya.
Potensi yang dimaksud adalah uang mahar (mas kawin) dari warga Persaudaraan Setia Hati Terate,di mana uang mahar itu merupakan tebusan wajib. Kalau semula, mempergunakan uang ketanan yang tidak laku,oleh Mas Madji pun diubah menjadi uang yang laku. Uang ketengan waktu itu identik dengan masyarakat kecil.
Pemikiran Mas Madji,sebuah organisasi tidak akan maju kalau tidak mempunyai dana. Sebab waktu itu hidup SH Terate hanya mengandalkan bantuan dari para kadang.”kalau begini caranya, SH Terate tidak akan besar,karena tidak mempunyai kekuatan sendiri. Organisasi tak lepas dari pendanaan,”katanya.
Perubahan sekecil apa pun pasti ada yang pro dan kontra. Mas Madji saat itu pun mendapat pertanyaan dari beberapa kadang,mengapa uang ketengan itu diganti dengan yang laku. Apalagi,kadang Persaudaraan Setia Hati Terate termasuk masyarakat kecil,begitu alasannya.
Belum lagi permasalahan tentang uang ketengan yang biasanya menjadi hak Ibu Hardjo Oetomo,sebagai istri pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate. Namun dengan tegas Mas Madji menyatakan akan bertanggung jawab atas kehidupan Bu Hardjo Oetomo sekeluarga,”katanya.
Pada tahun 1978,sebenarnya Mas Imam tidak berkenan menurunkan atlit pencak silatnya di gelanggang pertandingan dengan beberapa pertimbangan. Namun waktu itu,sebagai ketua 1 , H Tarmadji Boedi Harsono nekad untuk mengirim atlitnya. Pertimbangannya,Persaudaraan Setia Hati Terate merupakan anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia(IPSI).” Jadi kalau tidak ikut,kita nanti dinilai tidak loyal tehadap IPSI,”kata Mas Madji.
Mas madji nekad membawa 4 pesilat remajanya ke tingkat nasional. Hasilnya tutik haryati keluar sebagai juara I,demikian pula pada tahun 1979,mampu menelorkan 4 juara nasional,lagi-lagi Tutik Haryati keluar sebagai juara I.
Semakin Berkembang
Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate makin tampak nyata,setelah melalui Musyawarah Besar(Mubes) Persaudaraan Setia Hati Terate tahun 1981. Dalam mubes itu H. Tarmdji Boedi Harsono,SE terpilih sebagai Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate.
Dan saat itu pula kepemimpinan di Persaudaraan Setia Hati Terate diubah menjadi 2 jalur. Jalur ideal dan jalur professional. Jalur ideal di pimpin oleh Mas Imam,sedang jalur professional yang meliputi teknis dan organisasi di kendalikan Tarmadji Boedi Harsono. Kepemimpinan 2 jalur ini berlangsung sampai Mas Imam wafat tahun 1987.
Perjalanan Persaudaraan Setia Hati Terate sajak tahun 1981 sampai 1987 baik-baik saja. Namun menjelang Mas imam wafat. Persaudaraan Setia Hati Terate mengalami cobaan dari eksternal,”kata Mas Madji.
Bahkan setelah Mas Imam wafat, Persaudaraan Setia Hati Terate justru tak hanya mendapat tantangan dari eksternal saja,namun juga dari kalangan internal yang punya pandangan berbeda. Dewan pusat seolah-olah merasa kuasa. Padahal Persaudaraan Setia Hati Terate saat itu jelas-jelas dipimpin dalam 2 jalur,”katanya. Namun,dengan pendekata-pendekatan,akhirnya menurut mas madji, dewan pusat menyadari keberadaannya.
Sejak menempati posisi sebagai Ketua Umum itulah, H. Tarmadji Boedi Harsono semakin leluasa berkiprah dalam membawa nama besar dan panji-panji Persaudaraan Setia Hati Terate semakin berkibar.
Dengan akta notaries Darma Sanjata Sudagung nomor 66/1982 berdirilah Yayasan SH Terate. Dengan yayasan itulah SH Terate mendapat tanah di Jalan Merak seluas 33.380 M2. Di atas lahan itulah kini berdiri dengan megah Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate. Selain itu di tambah pembelian tanah dari PT Cipta Niaga.
Padepokan ini terdiri dari Pendapa Agung Saba Wiratama, gedung sekretariat Persaudaraan Setia Hati Terate, gedung Pusdiklat (Sasana Kridangga), gedung pertemuan (Sasana Parapatan),training Centre (Sasana Pandadaran), gedung peristirahatan (Sasan Amongraga),dan Kantor Yayasan Setia Hati Terate.
Di lokasi yang sama,juga berdiri 2 sekolah yakni SMU Kusuma Terate dan SMK Pariwisata Kusuma Terate. Bahkan kemudian dilengkapi dengan guest house. Sedang untuk meningkatkan perekonomian warganya. Tarmadji Boedi Harsono membentuk koperasi yang kemudian diberi nama Koperasi Terate Manunggal.
Sejak tampuk pimpinan organisasi dipegang oleh H Tarmadji Boedi Harsono. Persaudaraan Setia Hati Terate semakin berkembang ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan hingga ke luar negeri. Kalau saat Mas Imam meninggal baru terdapat 44 cabang saja,sekarang ini ada 199 cabang di seluruh Indonesia itu belum termasuk yang di sekolah-sekolah dan luar negeri,”akunya.
Kepemimpinan persaudaraan setia hati berubah lagi pada tahun 1992. Kalau semula dipimpin dalam 2 jalur,di kembalikan lagi ke satu jalur. Sehingga jalur idealis maupun professional menjadi satu kembali.
Tahun itu pula cobaan yang dihadapi Persaudaraan Setia Hati Terate ,menurut Mas Madji mencapai klimaksnya. Bahkan ada sebagian kadang Persaudaraan Setia Hati Terate yang menyarankan agar Mas Madji pindah ke Jakarta saja.”Saya sampai matur suwun atas saran itu,tapi saya punya keyakinan bahwa semua permasalahan bisa diselesaikan dengan baik,”katanya.
Dan akhirnya 9 oktober 2003,terjadilah salah pengertian antara Persaudaraan Setia Hati Terate dengan Tunas Muda Winongo. Ini terjadi tanpa dipengaruhi orang lain dan dilakukan secara tulus ikhlas,bahwa kami adalah satu,kata Mas Madji.
Menurut Mas Madji, baik Persaudaraan Setia Hati Terate maupun Tunas Muda Winongo tak ada bedanya, namun demikian menurut Mas Madji saat itu sempat terjadi saling cemooh,terutama dari yang tidak mengetahui permasalahnnya. Opo iso(apa bisa). Cemooh mereka itu.
Namun dengan niat yang baik dan dilakukan dengan tulus ikhlas dalam tempo 4 tahun apa yang di harapkan tercapai juga.“Tak ada provokasi lagi,kita saling menyadari bahwa kita sama-sama saling mendidik,”tegasnya.
Apel besar
Tahun 1981, untuk kali pertama Persaudaraan Setia Hati Terate mengadakan apel besar-besaran di aloon-aloon Madiun.“Waktu itu komandan upacara Mas Gembong.”Kata mas madji.
Apel itu untuk menunjukkan bahwa Persaudaraan Setia Hati Terate itu besar. Tapi tanpa di sadari bahwa kita ini pamer kekuatan. Dan itu bisa diartikan kita telah keluar dari rel ajaran Setia Hati Terate,”ungkapnya.
Apel itu sendiri memang membanggakan bagi warga Setia Hati Terate,padahal mestinya dihindari.“Pamer itu menjadikan kita sombong,”tandasnya. Apel besar-besaran terulang kembali tahun 1985.
Cobaan selalu saja ada,setelah itu terjadi permasalahan dimana Persaudaraan Setia Hati Terate di tengah masyarakat digambarkan tidak sebagaimana mestinya. Masyarakat diminta berhati-hati dengan orang-orang PSHT.”Senangnya berkelahi,”kata Mas Madji tentang image yang ada di masyarakat.
Mas Madji memperhatikan perkembangan tersebut semakin lama semakin berlanjut. Apaligi setelah ia mengetahui bahwa gerak langkah Persaudaraan Setia Hati Terate menjadi perhatian aparat. Setiap mengadakan kegiatan harus izin ini dan itu. Saya tidak masalah dengan izinnya,tapi yang membuat saya menangis kok sebegitunya itu,”ujarnya.
Dan Persaudaraan Setia Hati Terate adalah membentuk manusia berbudi luhur tahu benar dan salah dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam jalinan persaudaraan yang kekal dan abadi. Sedang ilmunya,kenalilah diri sendiri sebaik-baiknya,setelah mengenal diri maka tak akan sulit mengenal orang lain.
Dengan patform perseduluran itu, persaudaraan setia hat iterate tak mempertanyakan siapa kamu, siapa saya,latar belakangmu apa,agama dan kepercayaanmu apa,latar belakang sosial ekonomi bagaimana. Yang ada saling menyayangi,hormat menghormati dan saling bertanggungjawab. Kita bangun perseduluran yang agung, dimana di antara kita harus saling menyayangi,saling menghormati dan saling bertanggung jawab,tandasnya.
Saling Menyayangi :
Persaudaraan harus dilandasi rasa sayang menyayangi. Yakni, adanya jalinan rasa kebersamaan antara warganya,baik dari orang pertama,kedua dan seterusnya. Semua adalah kadang atau saudara, meski bukan saudara berdasarkan darah keturunan,namun sebagai sedulur tunggal kecer.
Saling Hormat :
Da;am menjalin rasa persaudaraan,unsur saling menghormati mutlak diperlukan. Persaudaraan Setia Hati Terate tidak membedakan warganya. Apapun yang disandang warga,harus dihormati,apakah itu agamanya,pekerjaannya,status ekonominya, tidak ada yang di bedakan.
Saling Bertanggungjawab :
Lantas bagaiman ketiga unsure pendukung itu bisa terwujud? Yakni harus memahami hakikat persaudaraan itu sendiri yang kekal dan abadi. Kemudian dapat mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari.“Menjalin persaudaraan itu sebenernya tidak sulit,tapi juga tidak gampang,”katanya.
Dan di dunia pencak silat yang keras terdapat pula didikan tata lahir dan tata batin. Tata lahir adalah bagaimana manusia itu bermasyarakat. Sedang tata batin beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan masing-masing.
Dengan format perseduluran itu, artinya di persaudaraan setia hati terate  tak ada guru tak ada murid. Yang ada adalah kakak adik,saudara muda dan saudara tua. Dan hubungan antara pusat dan daerah adalah hubungan moral,”ungkapnya.
Demikian pula dalam tata organisasi, menurut Mas Madji, tidak ada perbedaan  antar pusat dan daerah. Sebab  apa yang diberikan pusat dan daerah terhadap kadang semuanya sama. Senamnya sama,jurusnya sama,sambungnya sama,demikian pula pasangannya juga seperti itu. Tak ada bedanya, itu yang ditularkan,apalagi sejak tahun 2008 telah di patenkan lamaing maupun tata organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate,”katanya.
Dengan hak patent itu ada beberapa tata organisasi yang dirombak. Misalnya ditetapkan satu komando yang terpusat. Di mana cabang dan ranting harus tunduk kepada pusat,dan cabang menjadi tanggung jawab masing-masing.”Kalau ada pelanggaran,ketua cabang bisa dihentikan  tanpa menunggu waktu,”tegasnya.
Namun demikian untuk jabatan ketua,bisa dipegang selamanya atau seumur hidup,selama ketua itu tidak melanggar wasiat.“Ibaratnya ketua itu bisa menjadi kiai dan jadi panutan masyarakat,”ungkapnya.
Demikian pula istilah musyawarah,diubah menjadi parapatan. Sebab musyawarah menurut Mas Madji identik dengan pemilihan ketua. Sedang parapatan merupakan kumpulan rapat-rapat untuk menelorkan program-program.
Tapi yang harus diingat menurut Mas Madji,bahwa lahirnya Persaudaraan Setia Hati Terate itu dari Madiun. Karena itu pusatnya harus di Madiun. Ketua Umumnya harus di Madiun.“Orang luar boleh jadi Ketua Umum,tapi setelah jadi, harus pulang ke Madiun itu harga mati,”tegas Mas Madji.
Persaudaraan Setia Hati Terate  punya tugas untuk mendidik manusia berbudi luhur tahu salah dan benar,beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai keyakinan masing-masing.“Jadi secara tidak disadari lagi. Persaudaraan Setia Hati Terate terseret arus kembali. Apalagi saat era kebebasan demokrasi. Kalau dibiarkan terus berlanjut,PSHT akan buyar,”tandas Mas Madji.
Persaudaraan Setia Hati Terete itu merupakan peseduluran yang tidak berbau polotik atau organisasi masyarakat. Namun,setiap warganya boleh saja berpolitik,sesuai haknya sebagai warga Negara.“Berpolitik tidak dilarang,tapi jangan dibawa masuk ke Persaudaraan Setia Hati Terete . kalau sudah bicara tentang PSHT,harus lepas baju politik kita,”katanya.
Jadi tegasnya, Persaudaraan Setia Hati Terate tidak boleh di bawa kekancah politik,menurut Mas Madji, Persaudaraan Setia Hati Terate ingin membangun keluarga besar yang harmonis,bukan membangun kekuatan.“Ini harus disadarai,”kata Mas Madji.
Lalu mengapa dulu Persaudaraan Setia Hati Terate tidak menyadari??. Namanya manusia bisa lupa,namun akhirnya kita diingatkan oleh Allah SWT. Karena semua terkait dengan situasi dan kondisi. Dan karena terus berlanjut,akhirnya kita sadar,”ujarnya. Kesadaran itulah yang kemudian membulatkan tekadnya untuk kembali ke JATI DIRI.
Sebab kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan bagi persaudaraan setia hati terate. Dengan kembali ke JATI DIRI itulah diharapkan kondisi yang morat-marit itu,tidak semakin melebar,”Kita kembali ke JATI DIRI, bahwa Persaudaraan Setia Hati Terate ini adalah peseduluran yang bergerak di bidang pencak silat bukan peguron,itu platform kita,”katanya.
Diman Persaudaraan Setia Hati Terate tidak berpolitik. Tapi kadangnya boleh berpolitik.“Dan harus ada rambu-rambu bahwa nantinya Ketua Umum. Ketua-ketua dan sekretaris tidak boleh merangkap mengurusi parpol. Yang boleh hanya organisasi kemasyarakatan dan keagamaan,”tegasnya.
Mas Madji, Sang Pembaharu
Apa yang dilakukan oleh H Tarmadji Boedi Harsono SE,membuat lelaki kelahiran Madiun, 3 Februari 1943 ini layak mendapat predikat sang pembaharu di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate. Pembaharuan baik di bidang reformasi manajemen maupun ajaran persaudaraan untuk kembali ke JATI DIRI terus dilakukan.
Anak sulung dari enam bersaudara,dari keluarga sederhana. Ayahnya, Suratman, seorang pegawai di Departemen Transmigrasi,sedangkan ibunya. Hj Tunik hanya sebagai ibu rumah tangga.
Lahir dari keluarga kurang mampu,beliau berjuang untuk mengubah nasib. Selain jabatan formal sebagai Ketua DPRD Kota Madiun periode 2004-2009,juga dipercaya untuk menjadi kendali utama Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun,sebagai Ketua Umum sejak tahun 1981 sampai sekarang.
Bahkan berderet-deret jabatan pun tersandang di pundaknya,antara lain di organisasi keagamaan,ia Ketua IPHI(Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) dan ketua KBIH(Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Mabrur,Kota Madiun. Di profesi, ia Ketua Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas). Di pekerjaan ia pimpinan PT Mita Budi Prima serta badan usaha lainnya,yang mengelola minyak tanh dan beberapa SPBU di daerah Ngawi. Dan masih sederet jabatan nonformal lainnya yang ia sandang.
Bagaimana Tarmadji kecil sampai bisa diterima menjadi murid Mas Imam,padahal waktu itu persyaratan menjadi warga cukup ketat? Ternyata ada kisah yang cukup menarik. Waktu itu,tahun 1958 ia melihat Mas Imam sedang ikut pertandingan pencak silat di rumah dinas Wali Kota Madiun.“Saya waktu itu melihat dan berfikir,saya suka gelut jadi pegin juga belajar pencak,”katanya.
Namun waktu itu, SH Terate hanya menerima murid paling muda SMA atau sekitar 17 tahun. Sebab anggota SH Terate mendapat didikan keluhuran budi yang tinggi.“Jadi dulu anggota SH itu sangat berbudi luhur,memperhatikan orang lain,cinta kasih dan berbudi pekerti. Anak kecil seperti saya dipandang belum mampu menerima didikan budi luhur seperti itu,”kisahnya.
Sehabis nonton pencak silat itulah beliau sering datang ke Paviliun untuk melihat Mas Imam sedang melatih murid-muridnya. Karena anak kecil tidak boleh berlatih pencak. Tarmadji kecil hanya bisa melihat saja,sampai-sampai setiap Mas Madji melihat langsung disuruh pergi.“Bahkan pernah saya diminta agar meninggalkan tempat latihan karena masih kecil,”katanya mengingat masa-masa saat hatinya tergelitik ingin belajar pencak silat.
Namun obsesinya untuk dapat belajar pencak silat tak menyurutkan langkah Tarmadji kecil, Ia tak kurang akal. Kemauan besarnya untuk berlatih silat membuat dia mencari jalan. Adik Mas Imam yang bernama Abdullah Koesnowidjojo diujuk-ujuk agar ikut belajar silat ke kakaknya.“Ternyata dia mau,dan saya pun dipanggil boleh ikut latihan. Kalau latihan,saya selalu ditempatkan paling belakang,tapi akhirnya beliau melihat kemampuan saya,”katanya.
Ketekunan dalam belajar silat akhirnya membuahkan hasil pula. Tahun 1963,Mas Madji disyahkan menjadi pendekar tingkat 1. Namun sebelum disyahkan jadi pendekar,Mas Madji sempat menorehkan prestasi yang luar biasa.
Tahun 1970,Mas Madji disyahkan sebagai pendekar tingkat 2,dan setahun kemudian ia dipercaya menjadi Metua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun,hingga tahun 1974.
Tahun 1978,Mas Madji dipanggil RM Imam Koesoepangat di rumah Pak Badini. Di rumah Pak Badini itulah Mas Imam menyatakan kalau ingin melatih Mas Madji dan membuka latihan tingat 3. Mas madji sendiri yang dipilih untuk dilatih sekaligus diangkat dan dsyahkan menjadi pendekar tingkat III.
Tirakat Dalam Mencari Jati Diri
Langkah mencari jati diri pun ia lalui dengan puasa 100 hari. Saat tirakat yang dilalui Mas Madji menginjak hari 63 saat ada peristiwa yang membuat ia harus membatalkan puasa 100 harinya.“Waktu itu saya sedang main band bersama teman saya Soleman,Margono dan Ismadi,serta adiknya,”ceritanya.
Tanpa dinyana,Mas Madji terkena strum. Untungnya margono cepat tanggap,ia langsung mencabut kabel dari steker listrik.“Yang kesetrum Cuma saya saja. Saya sempat jatuh dan tidak bisa apa-apa,”katanya.
Saat itu,oleh Mas Imam,Tarmadji disuruh makan,tapi ia menolak.“Kalau nggak mau makan ya sudah,tapi kamu nanti bisa gila lho,”kata Mas Madji menirukan Mas Imam saat itu. Takut jadi gila,beliau pun makan hingga tirakatnya 100 harinya pun batal.
“Ada apa? Tanya Mas Imam saat Tarmadji suadah tenang dan bias diajak bicara.
“Saya ingin mencari jati diri,tapi belum bisa,jawab Mas Madji.
Mendengar murid kinasihnya mencoba tirakat untuk mencari jati diri,Mas Imam pun memberikan arahan dan menunjukkan jati diri Mas Madji. Mulai kekurangan maupun kelebihannya,semuanya dijlentrehkan Mas Imam secara gamblang,menurut Mas Imam, kekurangan itu tidak bisa dihilangkan, namun bisa diminimalkan. Sedang kelebihan yang dipunyai,juga tidak boleh sering digunakan.
Perjalanan dalam oleh batin sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Gemblengan olah batin dari Mas Imam disimpulkan sebagai”among aweh reseping ati”. Ibaratnya manembahing kawulo lan gusti,katanya.
Beliau sangat taat kepada Mas Imam, namun bukan berarti ia tak pernah melanggar apa yang diajarkan. Apa yang diajarkan, ingin ia buktikan dan diuji dulu kebenarannya, kecuali dia sudah mengerti. Misalnya tentang ajaran kekebalan dan tenaga dalam yang tak pernah diajarkan Mas Imam.”mas imam tidak mengajarkan itu,tapi kalau sya mau,ada teman-teman beliau yang bisa mengajarkan. Karena saya ingin membuktikan ucapan beliau bahwa ilmu kekebalan itu tidak ada gunanya, maka saya langgar,”katanya.
Beliau pun belajar ilmu Ismu Gunting,sebuah ilmu tenaga dalam, dimana siapa pun yang terkena pukulan ilmu itu pasti glenteran(jatuh terkapar). Ilmu itu dipelajari dari Mas Imam sendiri. Tapi ternyata apa yang dikatakan Mas Imam,benar juga. Suatu saat,ketika Tarmadji marah kepada adiknya, tanpa sadar ia menempeleng sang adik hingga glenteran.
Saat marah dan memukul itu,ia tanpa sengaja menggesekkan kedua telapak tangannya, hingga secara tak sadar pula ilmu Ismu Gunting itu tersalur di telapak tangannya dan mengenai adiknya hingga glenteran. Akhirnya saya ingat apa yang dikatakan Mas Imam, bahwa ilmu karang iku boreh pinampane, sanyatane kepencok poncobolo, mbalenjani janji,”katanya menirukan pitutur mas imam.
Mas madji akhirnya yakin,sebenarnya ilmu semacam itu”termasuk di tembak lakak-lakak, suatu saat memang benar-benar bisa dibuktikan, namun benar juga saat kepencok poncobolo mbelenjani janji.“Tidak ada manusia itu dibacok tidak tedas, sebab suatu saat pas hari naasnya pasti bisa dibacok,”katanya.
Obsesi Mas Madji
Memang tempuk pimpinan Persaudaraan Setia Hati Terate, H Tarmadji Boedi Harsono mempunyai obsesi yang sangat kuat agar SH Terate berkembang se dunia.“Dasarnya,ingin persaudaraan dengan siapa pun tanpa memandang siapa kamu siapa saya,”tegasnya.
Selain itu,Mas Madji ingin menjadikan SH Terate menjadi aset nasional. Meski untuk itu di sadari pasti banyak hambatan, tantangan dan rintangan. Saya yakin biar pelan tapi pasti,”katanya.
Untuk itu diperlukan semua sedulur SH punya komitmen terhadap keberadaan dan nyengkuyung SH Terate. Sebab Persaudaraan Setia Hati Terate  berakar dari kebudayaan bangsa.“Tapi kita tetap agamis, tapi bermacam-macam agama kita wadahi jadi satu di Persaudaraan Setia Hati Terate,”tandasnya.
Sebab di situlah watak,sifat bangsa Indonesia tercermin. Halus,sopan dan santun,namun kalau diganggu akan mengeliat. Ibarat mati pun dipertaruhkan kalau itu menyangkut harga diri. Begitu pula Persaudaraan Setia Hati Terate watak sifatnya harus lemah lembut,sopan santun. “Tapi kalau kita diganggu,kita akan bertindak,tapi saya menyadari sehingga menanggulangi dengan senyum dan mencari jalan keluar terbaik,”katanya.
Sehingga dengan demikian, segala permasalahan dihadapi dengan penuh arif dan bijaksana, dilandasi sebuah filosofi”ngluruk tanpo bala,menang tanpa ngasorake”. Sebab semua itu menurut Mas Madji,merupakan romantika dalam kehidupan yang justru akan mendewasakan kita.“Karena itulah Persaudaraan Setia Hati Terate berkembang,”ujarnya.
Perkembangan itu di akui banyak menghadapi kendala, baik dari intern maupun ekstern. Dan beliau sangat yakin, semua itu akan selesai lantaran Persaudaraan Setia Hati menghendaki peseduluran. Dunia pencak silat memang harus hebat,karena itu benteng perseduluran,”ujarnya.
Dan klimaksnya 9 oktober 2003 dengan diadakan kesepakatan antara Persaudaraan Setia Hati Terate dan Tunas Muda Winongo. Menurut Mas Madji,sebenarnya antara dua kubu itu tak ada permasalahan apa-apa.“Tapi saya memang menyadari bahwa kita dipertarungkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab,”katanya.
Bahkan ada banyak pihak-pihak yang mencemooh kesepakatan itu, bahwa yang sepakat hanya yang di atas saja. Namun beliau yakin cemoohan itu pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya.“Kenyataannya, 4 tahun ini sudah tidak ada apa-apa, kalau ada yang muda berkelahi itu kan biasa. Dan saya menghargai betul beliau-beliau yang telah mensuport semua ini, sehingga sampai sekarang tak bermasalah lagi,”ujarnya.
Dan sekarang, saatnya bagi Persaudaraan Setia Hati Terate berlomba-lomba meraih prestasi dalam segala bidang. Baik pencak silatnya, maupun hubungan dengan masyarakat. Namun ia mengingatkan agar tidak mencampuradukkan dengan kepentingan pribadi. Karena itulah dalam Reker Persaudaraan Setia Hati Terate, Oktober 2009, ditekankan “kembali ke jati diri”. Yakni Persaudaraan Setia Hati Terate ingin membangun peseduluran dengan tujuan ikut menjadikan manusia berbudi luhur. Ilmunya mengenal diri sendiri di dalam wadah persaudaraan,kemudian dilatih pencak silat ala Setia Hati Terate.
Selain itu juga dididik budi pekerti ke-SH-an, yakni jejering urip,l ungguhing urip, sangkan paraning dumadi, yang artinya bagaimana hidup di dunia, bagaimana kita di masyarakat dan semua adalah dari Allah SWT.“Untuk itu orang SH Terate hidup harus penuh arif dan bijaksana,”katanya.
Karena itulah sebagai warga Persaudaraan Setia Hati Terate mempunyai prinsip, kalau dipilih dan ditunjuk sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate, seluruh hidupnya akan diabdikan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate.“Saya akan meniti karier bersama-sama Setia Hati Terate. Kalau SH Terate besar saya ikut besar, kalau kecil saya ikut kecil,”ujarnya.
Pola Pikir Saat Ini :
Bagaimana H Tarmadji Boedi Harsono mengembangkan Persaudaraan Setia Hati Terate, diibaratkan sebagai orang hidup yang membutuhkan sandang, pangan dan papan. Sebab harga diri organisasi harus punya papan yang jelas. Ia yakin, kalau sedulur Persaudaraan Setia Hati Terate secara lahir batin menyadari betul keberadaannya, maka diibaratkan sebagai suwe mijet wohing ranti.
Menyadari akan hal itulah mengapa akhirnya Mas Madji dengan segala daya upaya membangun padepokan melalui yayasan. Lewat Wali Kota Madiun Drs.Marsoedi dan ketua DPRD Kota Madiun (waktu itu Astar Asmali), maka Persaudaraan Setia Hati Terate mendapat tanah yang dibeli dengan harga pemerintah.
Dan sekarang, ada sebuah pemikiran bagaimana Persaudaraan Setia Hati Terate mempunyai dana abadi. Untuk itulah diharapkan agar seluruh warga Persaudaraan Setia Hati Terate segera mengkonsolidasikan diri menjadi satu, satu kekuatan yang berakar dari budaya.
Dana abadi itu selain untuk hidupnya Persaudaraan Setia Hati Terate, juga untuk membantu warga Persaudaraan Setia Hati Terate maupun masyarakat yang kurang mampu.“Kalau seluruh kekuatan Persaudaraan Setia Hati Terate rela menyumbang, saya yakin dalam waktu singkat akan dirasakan manfaatnya. Silahkan siapa yang akan pimpin,”katanya.
Selain itu,ditegaskan bahwa radius 5 sampai 10 km dari padepokan adalah milik Persaudaraan Setia Hati Terate. Artinya, masyarakat sekitarnya merasakan betul arti keberadaan Persaudaraan Setia Hati Terate.“Dan sudah saya rintis kalau saya wayangan, kalau punya rezeki semua pedagang yang jualan saya bantu dana. Saya sangat sedih kalau Persaudaraan Setia Hati Terate dikatakan kumpulan wong gelutan. Karena itulah saya ajak warga Persaudaraan Setia hati Terate untuk kembali ke jati diri,”ujarnya.
Kembali Ke Jati Diri
Mengapa harus kembali ke jati diri??? Menurut Mas Madji, setiap Setia Hati Terate hanya mempunyai satu platform. Karena itu Setia Hati Terate tidak bisa dibawa kemana-mana. Dibawa ke rohani saja tidak cocok, dibawa kesilatnya saja juga tidak cocok. Apalagi dibawa ke kancah politik jelas tidak cocok.“Meski yang pegang itu orang politik, jangan dianggap bahwa Setia Hati Terate bisa dibawa ke politik,”katanya.
Karena itulah saat ini selalu dikumandangkan, kembalilah ke jati diri, asal muasalnya Setia Hati Terate.“Kita harus sadar, bahwa Setia Hati Terate lahir dari seorang pejuang, berarti kita harus mengisi apa yang menjadi perjuangannya. La ngisinya bagaimana?”Katanya.
Mengisi dan melanjutkan perjuangannya pendiri Setia Hati, adalah melalui pendidikan, sesuai platform Persaudaraan Setia Hati Terate, yakni persaudaraan dengan siapa pun, terutama dengan keluarga Setia Hati Terate. Yakni persaudaraan yang tidak melihat siapa kamu, siapa saya, maupun latar belakangnya.
“Tapi yang ada saling sayang menyayangi, saling hormat menghormati dan saling bertanggungjawab,”katanya.
Saling menyayangi adalah sedulur Setia Hati harus saling menyayangi tanpa membedakan suku, bangsa, ras, maupun latar belakang yang dimiliki.“Sebab di hadapan Allah SWT, kita semua sama. Ketika berkumpul kita sama, yang membedakan hanya tugas dan kewajiban masing-masing, jadi kita harus saling menghormati keberadaan masing-masing,”ungkapnya.
Dan, baik jeleknya Setia Hati Terate, menjadi tanggungjawab bersama sebab apa pun yang dilakukan, apapun kegiatannya, pasti membawa nama Setia Hati Terate.“Karena itulah sebagai warga Setia Hati Terate di mana pun dan kapan pun juga harus ikut beratanggungjawab,”katanya.
Selain itu,semua kadang Setia Hati Terate harus menyadari pula tujuannya, yakni ikut menjadikan sosok yang berbudi luhur, tahu salah dan benar, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab yang ingin diciptakan adalah orang yang mempunyai keberanian dan kepribadian Bangsa Indonesia.
“Setelah kita tahu tujuannya, kita juga harus mengenal ilmunya apa,”katanya.
Ilmu Setia Hati Terate adalah mengenal diri sendiri sebaik-baiknya, setelah mengenal diri sendiri, kita tidak akan sulit mengenal orang lain. Mengenal diri sendiri baik kekurangan maupun kelebihannya. Sebab manusia tidak akan luput dari kekurangan dan kelebihan.“Dengan demikian, kita tidak menjadi orang yang sombong, yang angkuh dan merasa paling hebat. Dan ini rentetannya menjadi orang yang penuh kesederhanaan,”tegasnya.
Sedang pencak silat merupakan benteng peseduluran, agar peseduluran itu tidak mudah diganggu gugat. Ini semua juga terkait dengan saat pendiri Setia Hati Terate tahun 1922 di masa penjajahan. Sebab dengan pencak silat, bisa bergerak cepat. Dan dari pencak silat itu diajarkan budi luhur.“Karena itulah mestinya Setia Hati Terete merupakan kumpulan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mestinya setiap tindakan selalu diperhitungkan dan lemah lembut,”ujarnya.
“Jadi kalau orang Setia Hati Terate yang tindakannya antem kromo, kembalilah ke jati dirimu. Sehingga siapa pun yang kita dekati, mereka meras nyaman,”tambahnya.
Karena itulah menurut Mas madji, mengapa pendiri Setia Hati Terate disebut dengan Ki Hajar, bukan guru besar. Sebab beliau adalah pendidik, ini yang tidak disadari oleh dulur-dulur. Dan itulah sebabnya yang dikehendaki dan merupakan platform Setia Hati Terate,”katanya.
Namun demikian, pencak silatnya harus hebat, namun tidak menjadikannya arogan. Sebab dengan pencak silat inilah Setia Hati Terate dapat berkembang. Dengan demikian, bisa diibaratkan Setia Hati Terate tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Ilmunya bisa saja untuk semua orang, namun tidak boleh yang pokok-pokok. Sebab yang pokok-pokok menjadi rahasia Setia Hati Terate.
“Kalau baik bagaimana menjadi lebih baik, kalau kurang baik bagaimana menjadikannya baik,”tegasnya.